Le statut des femmes bugis et makassar vu par leurs propres sociétés
Bibliographic Data
| ID | 10893959 |
|---|---|
| Authors | Hamzah Daéng Mangemba (corresponding author) |
| Year | 1975 |
| Volume | 10 |
| Issue | 1 |
| Pages | 153-157 |
| Publication date | 1975-01-01 |
| Open Access | No |
| Type | ARTICLE |
| Venue | Archipel (JOURNAL) |
| Journal identifiers | ISSN: 0044-8613 • E-ISSN: 2104-3655 |
| Publisher | PERSEE Program (PUBLISHER) |
| DOI | 10.3406/arch.1975.1246 |
| OpenAlex | W2070414173 |
| Language | FR |
| Citations received | 2 |
6) Satu ciri lain dari masyarakat tersebut adalah kedudukan wanita. Hamzah Daeng Mangemba (Fakultas Sastra, Universitas Hasanudin, Ujung Pandang) dalam beberapa halaman menerang- kan bagaimana Bugis dan Makasar menghadapi persoalan ini. Meskipun adanya pembagian yang jelas atas prinsip kewajiban, dimana laki-laki bertanggung jawab keluar untuk urusan keluarga, demikian juga untuk menjaga kehormatan isterinya, saudara-saudara perempuannya dan anak-anak perempuannya, tetapi urusan rumah tangga terutama berada di tangan isteri, dan tanpa persetujuannya, suami tak dapat mengambil kepu- tusan yang penting. Mungkin kedudukan mereka tidak dapat dikatakan sama, akan tetapi nilainya sama. Lebih menarik lagi, sesuai dengan prinsip dimana yang penting bukanlah jenis kelamin sebenarnya, melainkan watak seseorang, bila seorang wanita berwatak laki-laki, dia harus dianggap sebagai laki-laki. Sering kita lihat pada zaman dulu wanita-wanita Bugis atau Makasar memiliki kekuasaan politik (atau pada waktu ini ke- kuasaan administratif) atau bahkan militer
Art · Humanities · Asian Studies and History · Gender and Women's Rights
| Citations per year | 0.18 |
|---|---|
| Citation span | 2015 - 2016 (2) |
| Highly cited | No |