The Representation of the Female Body in two Contemporary Indonesian Novels
Ayu Utami's Saman and Fira Basuki's Jendela-jendela
Bibliographic Data
| ID | 18948646 |
|---|---|
| Authors | Soe Tjen Marching (corresponding author) |
| Year | 2007 |
| Volume | 35 |
| Issue | 102 |
| Pages | 231-245 |
| Publication date | 2007-07-01 |
| Peer Reviewed | Yes |
| Open Access | No |
| Type | ARTICLE |
| Venue | Indonesia and the Malay World (JOURNAL) |
| Journal identifiers | ISSN: 1363-9811 • E-ISSN: 1469-8382 |
| Publisher | Informa UK Limited (PUBLISHER • GB) |
| DOI | 10.1080/13639810701440699 |
| OpenAlex | W2023914387 |
| Language | EN |
| Citations received | 3 |
| References cited | 6 |
Since the fall of President Suharto in 1998 there has been an increase in the number of Indonesian female authors. Known as the sastra wangi (fragrant literature) generation, one of the shared themes of these writers is the explicit discussion of female sexuality. Several critics have praised these discussions claiming them as a means of answering and/or challenging patriarchal authorities in Indonesia. This paper compares and contrasts two contemporary Indonesian women's novels – Ayu Utami's Saman Citation(1998) and Fira Basuki's Jendela-jendela Citation(2001). Although these two novels are in the same literary genre, closer reading of the texts reveals that the representations of women's bodies in these two novels are significantly different. While Ayu Utami's Saman provides a challenge to patriarchal values in Indonesia, Fira Basuki's Jendela-jendela does not show such a rebellion. Notes 1 Dia katakan, dada saya besar. Saya jawab tidak sepatah kata. Dia katakan, apakah saya siap. Saya jawab, tolong, saya masih perawan. (Adakah cara lain.) Dia katakan, bibir saya indah. Ciumlah. Cium di sini. Saya menjawab tanpa kata-kata. Tapi saya telah berdosa. Meskipun masih perawan (p. 4). 2'Seharusnya dia memberi kabar. Kamu kan sudah kasihkan alamatku. Apa susahnya menelpon?' 'Mm, iya sih ... Tapi bagaimana mau telepon kalau istrinya di samping terus?' 'Istrinya itu kalau berak juga minta ditunggui, ya?' 'Mungkin beraknya cepat' (pp. 121–22). 3 'Aku dicium, jawabnya satu pagi. Tak boleh lagi kamu dicium, kataku, besok-besok kamu harus ciuman. Suatu siang ia laporan: semalam aku ciuman. Dan apakah kamu basah? – tanyaku. Tidak tahu, katanya, apa bedanya dengan keputihan?' (p. 128). 4 Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak-perempuanku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa lelaki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran. Mereka tidak menghormati aku. Aku tidak menghormati mereka (p. 115). 5 [B]agiku hidup adalah menari dan menari pertama-tama adalah tubuh. Seperti Tuhan baru meniupkan nafas pada hari keempat puluh setelah sel telur dan sperma menjadi gumpalan dalam rahim, maka ruh berhutang kepada tubuh (p. 115). 6 'Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu melainkan gairah. Yang Sublim. Libidinal. Labirin (p. 116).' 7As Cixous states that bisexuality will more often than not be located within women for men have been trained to aim 'for glorious phallic monosexuality' (Cixous and Clement Citation1996: 85). 8 [D]ia suka merancap dengan pohon-pohon itu, menggosok-gosok selangkangannya .... Lama-kelamaan, dia juga tertarik pada binatang-binatang, terutama kambing. Setiap kali, ia juga menganiaya hewan-hewan itu, kadang sampai mati. Karena ia juga memperkosa dan menyiksa ternak tetangga, kami terpaksa memasungnya (p. 71). 9 Upi! Kenalkan, ini pacarmu! Namanya Totem. Totem Phallus. Kau boleh masturbasi dengan dia. Dia lelaki yang baik dan setia! (p. 78). 10 Lelaki itu telah mencambuk dada dan punggung perempuan itu, tetapi ia menemukan di selangkangannya sebuah liang yang harum birahi. 'Engkau dinamai perempuan karena diambil dari rusuk lelaki.' Begitu kata bisikan tuhan yang tiba-tiba datang kembali. 'Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya klentit karena serupa kontol yang kecil' (p. 193). 11 Tak tahu bagaimana Yasmin tertarik padaku yang kurus dan dekil? Dia begitu cantik dan bersih ... . Hari itu ia terus membuat badanku tertutul, aku seperti garangan yang ditangkap. Ia menghisap habis tenagaku (p. 177). 12 pada usia tiga puluh orang harus mulai menghindari lemak. Temanku itu harus berdiet. Ia mulai gemuk. Lehernya mulai berlipat. Ia tak boleh minum susu fulkrim (p. 117). 14 Ingin ia memeluk gadis itu dan membiarkannya merancapkan pucuk-pucuk nafsu pada tubuh lelakinya. Sebab ia mencintai perempuan itu (Larung, p. 113). 13Literally, Larung means 'floating' but it is also the name of the main character. 15 Aku sudah tidak perawan lagi waktu menikah dengan Jigme. Aku melakukannya pertama kali dengan Aji Saka. Ia memaksaku. Tapi setelah paksaan yang pertama, aku menyukainya (p. 119). 16 Aku selalu memastikan Mama bahwa aku tidak akan meminta uang lagi jika menikah ... Aku ... berkata, 'Kalau bisa cari suami kaya raya dong Ma, paling tidak orang tuanya yang konglomerat, supaya tidak menurunkan standar hidup' ... Ya, menikah dengan orang super kaya atau konglomerat selalu menjadi cita-citaku (p. 27). 17 Aku senang memanggil nama baruku yang bertitelkan 'nyonya'. Kedengarannya aneh? Tidak juga, dengan begitu aku sadar kewajibanku sebagai seorang ibu rumah tangga. Aku memang menikah sebulan yang lalu, 5 September 1997, dan langsung pindah ke Singapur. Titel nyonya atau ibu sudah pantas untukku, paling tidak menurutku (p. 3). 18 Sebagai seorang wanita yang ternoda dan menikah dengan pria yang 'suci', dosa terkadang menghimpit jiwa. Jigme mengaku masih jejaka ketika menikah denganku (p. 120). 19 Dean mendadak mendekapku dan kemudian mencium pipiku. Selanjutnya yang aku tahu, bibirnya menyentuh bibirku (p. 103). 20 'June, ini salahku juga, akhir-akhir ini aku jarang pulang ... .' Jigme menyisir rambutku dengan jemarinya (p. 124)
Art · Indonesian · Linguistics · Political science · Politics · Asian Studies and History · Gender and Women's Rights · History · Law · Philosophy
| Unique citing works | 3 |
|---|---|
| Citations per year | 0,23 |
| Citation span | 2013 - 2026 (14) |
| Citation velocity | current |
| Highly cited | No |
| Citation types | Neutral: 2 |