Skip to main content

ETHNOS_APP

Home • Search • Journals • List 0

Print, Piety, and Patriotism

Taman Poestaka Moehammadijah and the Creation of Enlightened Native Muslims in Colonial Indonesia

Bibliographic Data

ID24030150
AuthorsMuhammad Yuanda Zara (0000-0002-9278-9410)
Year2026
Volume64
Issue1
Pages89-119
Publication date2026-06-30
Open AccessYes
TypeARTICLE
VenueAl-Jami ah Journal of Islamic Studies (JOURNAL)
Journal identifiersISSN: 0126-012X • E-ISSN: 2338-557X
PublisherAl-Jamiah Research Centre (PUBLISHER)
DOI10.14421/ajis.2026.641.89-119
LanguageEN

This study examines a forgotten yet crucial aspect of the history of literacy in Indonesia by focusing on Taman Poestaka, a publishing arm of Muhammadiyah, founded in 1920. Drawing on Soeara Moehammadijah, a magazine published between 1921 and 1939, this article argues that Muhammadiyah regarded literacy as essential to advancing native population under colonial rule. The institution embraced modernity through the printing press, which enabled ideas to circulate more rapidly, widely, and efficiently through the publication of magazines, newspapers, brochures, books, and other printed materials. It disseminated Islamic teachings and public knowledge, both in the form of original publications and translated works, to the native people of the Dutch East Indies in more efficient and far-reaching ways, thereby contributing to the emergence of educated and modern-minded native Muslims. It also became a center for the creation of new knowledge and the development of native writers. In addition, it functioned as a public space where people exchanged ideas through a shared language, Indonesian, thereby nurturing a sense of cohesion, solidarity, and nationhood. This study demonstrates that Taman Poestaka played a significant role in fostering a culture of literacy within Muhammadiyah and in transforming Indonesian society into a more knowledgeable community at a time when the Dutch colonial government neglected native advancement and literacy remained low.[Studi ini mengkaji salah satu aspek yang terlupakan namun krusial dalam sejarah literasi di Indonesia, dengan berfokus pada Taman Poestaka, sebuah penerbitan milik organisasi Muhammadiyah, yang didirikan pada 1920. Dengan menelaah majalah Soeara Moehammadijah yang terbit antara tahun 1921 dan 1939, artikel ini berargumen bahwa Muhammadiyah memandang literasi sebagai sarana yang esensial untuk memajukan masyarakat pribumi yang tertindas di bawah pemerintahan kolonial. Lembaga ini mengadopsi modernitas melalui pemanfaatan mesin cetak, yang memungkinkan penyebaran gagasan secara lebih cepat, luas, dan terjangkau melalui penerbitan majalah, surat kabar, brosur, buku, serta berbagai bahan bacaan cetak lainnya. Taman Poestaka menyebarluaskan ajaran Islam dan pengetahuan umum, baik melalui karya asli maupun karya terjemahan, kepada masyarakat pribumi di Hindia Belanda, sehingga mendorong lahirnya kaum Muslim yang terdidik dan berpikiran modern. Lembaga ini juga menjadi pusat lahirnya pengetahuan baru serta pengembangan para penulis pribumi. Selain itu, Taman Poestaka berfungsi sebagai ruang publik tempat masyarakat bertukar gagasan dengan menggunakan bahasa bersama, yaitu bahasa Indonesia, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa kohesi, solidaritas, dan kebangsaan. Studi ini menunjukkan bahwa Taman Poestaka memainkan peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi di lingkungan Muhammadiyah serta mentransformasikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih berpengetahuan pada masa ketika pemerintah kolonial Belanda mengabaikan kemajuan masyarakat pribumi dan tingkat literasi masih rendah.]

Highly citedNo

Tools

Open DOI
Ethnos_APP • Open Source Project • MIT License • Frontend v2.0.0 • Privacy and Cookies • API Documentation: api.ethnos.app/docs • API Source Code: GitHub • DOI: 10.5281/zenodo.17049435 • Frontend Source Code: GitHub • DOI: 10.5281/zenodo.17050053 • cruz.rio.br • Expectantes Misericordiae