Penurunan Rasa Cinta Budaya Dan Nasionalisme Generasi Muda Akibat Globalisasi
Bibliographic Data
| ID | 7525599 |
|---|---|
| Authors | Dyah Satya Yoga Agustin (corresponding author) |
| Year | 2011 |
| Volume | 4 |
| Issue | 2 |
| Publication date | 2011-11-02 |
| Peer Reviewed | Yes |
| Open Access | Yes |
| Type | ARTICLE |
| Venue | Jurnal Sosial Humaniora (JOURNAL) |
| Journal identifiers | ISSN: 1979-5521 • E-ISSN: 2443-3527 |
| Publisher | Sepuluh Nopember Institute of Technology (PUBLISHER • ID) |
| DOI | 10.12962/j24433527.v4i2.632 |
| OpenAlex | W2616222984 |
| Language | EN |
| Citations received | 11 |
Saat dunia sudah mengalami era globalisasi, kita bisa berhubungan satu dengan yang lain dengan mudah dan sangat menguntungkan. Tetapi dengan adanya globalisasi ini mengakibatkan banyaknya budaya yang masuk dan menyebabkan berbagai masalah di negeri ini, misalnya menurunnya rasa cinta budaya dan nasionalisme generasi muda. Budaya Indonesia bisa hilang termakan zaman karena orang-orang Indonesia lebih suka meniru kebudayaan luar. Anak muda sebagai penerus bangsa harus bisa mempertahankan kelestarian budaya daerahnya masing-masing untuk memperkuat identitas kita sebagai orang Indonesia. Namun, kita merasa hilang harapan jika melihat anak-anak muda akhir-akhir ini merasa lebih bangga dengan budaya luar. Padahal kunci konservasi budaya terletak pada niat dan semangat anak-anak muda untuk tetap melestarikan dan generasi sebelumnya mengajarkan hal-hal yang mereka ketahui tentang budaya, sejarah dan tradisi negara kepada generasi muda. Sejak dini, orang Indonesia harus rajin mempelajari bahasa daerah, tarian daerah, menonton pertunjukan tradisional atau upacara adat, supaya rasa cinta terhadap budaya tumbuh dan berkembang. Sekarang anak-anak TK cenderung suka menonton Ben 10 dan bermain boneka berbie, yang semuanya pengaruh luar. Di era global mempelajari budaya luar khususnya penguasaan bahasa asing (Bahasa Inggris, Cina) memang menjadi suatu syarat untuk memperoleh pekerjaan yang bagus, namun bukan berarti harus meninggalkan budaya bangsa. Berbanggalah dengan candi-candi, kain tenun, tari piring, ketukan kendang, karena inilah identitas bangsa Indonesia. Perjuangan kita sekarang adalah mengembalikan rasa cinta itu kepada generasi muda Indonesia. Tumbuhkan rasa cinta akan budaya kita sejak usia muda
Analisis Penggunaan Aksara Sasak Dalam Keseharian Masyarakat Lombok Barat Di Era Globalisasi
Ideologi dalam pesan paskah 2023
Pengembangan Model Pembelajaran Nobangan Berbasis Permainan Tradisional Suku Kaili terhadap Nilai Karakter Cinta Tanah Air
Strengthening Pancasila Characters Through The Role Of Mosque Youth Organizations
Killer’s Fashion
Environmental Design of Indonesian Cultural Background on Creative Design Incubation of 'Legacy of Moksha'
Transformasi makna budaya tradisi nguras enceh pada generasi milenial
Membangun Tradisi Agama Berbasis Kearifan Lokal (Kajian Fenomenologis Majelis Dzikir dan shalawat Asy Syarifah Desa Tambung Kec. Pademawu Kab. Pamekasan)
Kepedulian Mahasiswa Terhadap Pelestarian Budaya Indonesia di Masa Pandemi
The Influence of Local Cultural Values in the Traditional Music Learning Process in the Sendratasik Department
Consumer Values Shifting in Cross Generation Javanese Consumers in Indonesia
| Unique citing works | 11 |
|---|---|
| Citations per year | 1,83 |
| Citation span | 2020 - 2025 (6) |
| Citation velocity | recent |
| Highly cited | No |
| Citation types | Neutral: 11 |