Skip to main content

ETHNOS_APP

Home • Search • Journals • List 0

Dramaturgi Kesenian Tradisional Dalupa Produksi Sanggar Seni Datok Rimba Di Woyla Aceh Barat

Bibliographic Data

ID19135849
AuthorsSusandro Susandro (Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, corresponding author), Rika Wirandi (Institut Seni Budaya Indonesia Bandung), Hatmi Negria Taruan (Institut Seni Budaya Indonesia Bandung)
Year2021
Volume10
Issue1
Pages15-15
Publication date2021-04-06
Peer ReviewedYes
Open AccessYes
TypeARTICLE
VenueGorga Jurnal Seni Rupa (JOURNAL)
Journal identifiersISSN: 2301-5942 • E-ISSN: 2580-2380
PublisherState University of Medan (PUBLISHER • ID)
DOI10.24114/gr.v10i1.22730
OpenAlexW3160641425
LanguageEN
Citations received2

Dalupa art emerged from the creative process of the people of West Aceh which can be stretched into three stages. First, Dalupa was originally a folk tale or folklore that was narrated from generation to generation. Second, the Dalupa then manifests (a person wearing the costume of a Dalupa character) so that it can be witnessed in person. At this stage, the Dalupa character does not manifest itself in the form of theater or dance. Its presence is only intended to entertain or enliven an event, such as weddings, processions, campaigns and so on. Third, the Dalupa character is presented by considering the dramatic element; arrangement of a series of events that tell the beginning of the appearance to the end of the Dalupa story. This study aims to record and describe how the process of creating the Dalupa art, as mentioned in the third stage. The method used is qualitative with the dramaturgy approach. This study shows the results that the art of Dalupa presents a story about the origin of the appearance of Dalupa with the manifestation of organized events. On this basis, it can be concluded that Dalupa art can be categorized as dramatic or theater art.Keywords: dalupa, creation process, dramatic, dramaturgy.AbstrakKesenian Dalupa muncul dari proses kreatif masyarakat Aceh Barat yang dapat direntangkan menjadi tiga tahap. Pertama, Dalupa mulanya merupakan cerita rakyat atau folklor yang dinarasikan secara turun-temurun. Kedua, Dalupa kemudian mewujud (seseorang yang mengenakan kostum tokoh Dalupa) sehingga dapat disaksikan secara langsung. Pada tahap ini, tokoh Dalupa mewujud tidaklah dalam bentuk kesenian teater atau tari. Kehadirannya hanya bertujuan untuk menghibur atau meramaikan suatu acara, seperti pernikahan, arak-arakan, kampanye dan sebagainya. Ketiga, tokoh Dalupa dihadirkan dengan mempertimbangkan unsur dramatika; penataan rangkaian peristiwa yang menceritakan awal kemunculan hingga akhir kisah Dalupa. Penelitian ini bertujuan mencatat serta memaparkan bagaimana proses penciptaan kesenian Dalupa, sebagaimana disebut pada tahap ketiga. Metode yang dilaksanakan yaitu kualitatif dengan pendekatan dramaturgi. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa kesenian Dalupa menyajikan cerita tentang asal mula kemunculan Dalupa dengan perwujudan peristiwa-peristiwa yang tertata. Atas dasar tersebut, dapat dismpulkan bahwa kesenian Dalupa dapat dikategorikan sebagai seni dramatik atau teater. Kata Kunci: dalupa, proses penciptaan, dramatika, dramaturgi. Authors: Susandro : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh Rika Wirandi : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh Hatmi Negria Taruan : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Barba, Eugenio. (2010). On Directing and Dramaturgy: Burning the House. New York: Routledge.Harymawan. (1993). Dramaturgi. Bandung: Rosdakarya.Herman, RN. (2016). Dalupa: Teater Tradisional Pantai Barat. Buletin Tuhoe edisi XVII. Banda Aceh: JKMA Aceh.Koster, G.L. (1998). Kacamata Hitam Pak Mahmud Wahid Atau Bagaimanakah Meneliti Puitika Sebuah Sastra Lisan?, dalam Pudentia MPSS (Ed.), Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif, Ed. Revisi cetakan keduapuluhsatu. Bandung: Rosdakarya.Pramayoza, Dede. (2013). Dramaturgi Sandiwara: Potret Teater Populer Dalam Masyarakat Poskolonial. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Soedarsono, R.M. (2001). Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: MSPI (Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia).SSDR. (2019). “Dramaturgi Kesenian Tradisional Dalupa”. Hasil Dokumentasi Pribadi: _________ 2020, Aceh Barat.Stokes, Jane. (2007). How to do Media and Kultural Studies: Panduan Untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya. Terj. Santi Indra Astuti. Yogyakarta: Bentang.Taruan, H.N. (2020). “Dramaturgi Kesenian Tradisional Dalupa”. Hasil Dokumentasi Pribadi: _________ 2020, Aceh Barat. Wirandi, R. (2020). “Dramaturgi Kesenian Tradisional Dalupa”. Hasil Dokumentasi Pribadi: _________ 2020, Aceh Barat

Art · Art history · Dance · Dramaturgy · Folklore · Humanities · Literature · Visual arts · Community-based Tourism Development and Sustainability · Cultural and Artistic Studies · Cultural and Religious Practices in Indonesia

  • Ketoprak Dor

    Open Access•Susandro Susandro, Afrizal Harun•Paradigma Jurnal Kajian Budaya•2024

  • Pertunjukan Sidalupa Buraq Lam Tapa Di Bubon-Aceh Barat Dalam Perspektif Performance Studies

    Open Access•Susandro Susandro, Hatmi Negria Taruan•Gorga Jurnal Seni Rupa•2021

Unique citing works2
Citations per year0.4
Citation span2021 - 2024 (4)
Citation velocityrecent
Highly citedNo
Citation typesNeutral: 2

Tools

Open DOIOpen Access
Ethnos_APP • Open Source Project • MIT License • Frontend v2.0.0 • Privacy and Cookies • API Documentation: api.ethnos.app/docs • API Source Code: GitHub • DOI: 10.5281/zenodo.17049435 • Frontend Source Code: GitHub • DOI: 10.5281/zenodo.17050053 • cruz.rio.br • Expectantes Misericordiae